Hari Natal baru aja berlalu, tapi suasananya tentunya masih
tetap berasa terutama buat saudara-saudara seiman yang sampai hari ini masih
berkumpul bersama keluarga dan masih menikmati liburan Natalnya.
Semoga semuanya bisa menikmati semua acara-acara dan
ibadah-ibadah Natal dengan damai dan tidak ada gangguan dan ganjalan sama
sekali, walau dibeberapa tahun belakangan ini setiap kali memasuki bulan Natal
mulai rame yang namanya perdebatan mengenai halal haram memberikan selamat
Natal kepada kita, tapi tentunya hal seperti itu tidak akan mengurangi
sedikitpun ke indahan Natal kita, dan juga tentunya tidak akan merubah tali
silahturahmi persahabatan dan persaudaraan antara kita dengan mereka, kita
tetap bersahabat dan kita akan tetap bersaudara.
Sebenarnya tulisan ini pengennya sih sebelum Natal ditulis
dan di share, karena selain banyaknya perdebatan yang diatas tadi itu banyak
juga pertanyaan-pertanyaan yang
mempersoalkan legitimasi kita umat Kristen kenapa merayakan Natal di Tanggal 25
DESEMBER?
Apa dalilnya?
Natal yang sesungguhnya tidak mungkin tanggal
25 Desember karena tidak mungkin ada gembala bisa mengembalakan domba-dombanya
di tanggal 25 Desember yang lagi dingin-dinginnya, lalu tidak cukup sampai
disitu mereka juga mengatakan bahwa umat Kristen baru mulai merayakan kelahiran
Kristus itu pada abad-abad ke 3 atau 4 Masehi atau 3 atau 4 abad kemudian
setelah Yesus lahir, dimana konon kabarnya perayaannya di adopsi dari perayaan
festival kaum pagan(penyembah berhala) dan merupakan hari lahirnya Sang Dewa
Matahari.
Cerita ini semakin sering kita dengar dari tahun ke tahun
dari Natal ke Natal, bahkan banyak sekali situs-situs di internet yang
pengelolanya juga orang Kristen sendiri yang juga menulis cerita-cerita seperti itu sebagai
asal mulanya perayaan Natal dimulai, dan di akhir cerita itu sebagai
pembelaannya selalu dikatakan “Tanggal tidaklah penting”, “Bebas-bebas aja kok
merayakan kapan aja yang penting semangatnya dan spiritnya”, “Walaupun dulu
mungkin di rayakan sebagai perayaan lahirnya Dewa Matahari tapi dengan diambil
alih menjadi Natalnya Yesus kita sudah membuat penyembahan berhala berhenti dan
digantikan dengan perayaan terhadap kelahiran Kristus” dan sebagainya dan
sebagainya.
Dan beberapa tahun belakangan juga cerita ini sering sekali
di ceritakan di rumah ibadah teman, sahabat ataupun saudara-saudara kita dalam
ibadah Jumat mereka, bahkan di Desember tahun ini sayapun ada 2 kali ikutan
nimbrung duduk manis mendengarkan cerita ini di sampaikan dalam ibadah Jumat
mereka.
Lalu benarkah Yesus sesungguhnya tidak lahir tanggal 25
Desember?
Benarkah kita meng-akulturisasi perayaan pagan dan
memperingati kelahiran Dewa Matahari?
Benarkah??
Saya coba sedikit menjelaskan semua itu, semoga apa yang
saya sampaikan, penjelasan saya dalam tulisan ini bisa berguna buat
saudara-saudara seiman.
Mereka menanyakan apa dalilnya kita merayakan hari kelahiran
Kristus?
Bukankah Yesus tidak pernah memerintahkan ataupun
mencontohkan untuk merayakan hari kelahiranNya?
Bukankah tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang menyuruh
kita merayakan Natal?
Lalu kenapa kita berani-beraninya merayakan Natal?
Mereka yang mempertanyakan mengenai dalil-dalil Natal
sesungguhnya mempertanyakan iman Kristen dari standar iman mereka yang didasarkan atas hukum-hukum dan dalil-dalil.
Iman Kristen tidak didasarkan atas hukum-hukum dan dalil-dalil,
Iman Kristen adalah Iman yang Mandiri yang tidak mendasarkannya kepada hukum
dan dalil, tapi hanya berdasarkan kepada hubungan pribadi dengan Tuhan, dan
satu-satunya hukum tertinggi dalam iman Kristen adalah Hukum Kasih.
Karena itu walau tidak diperintahkan, walaupun tidak dicontohkan
dan walaupun tidak ada tertulis mengenai perayaan Natal di Alkitab,
merayakannya sama sekali bukanlah sebuah kesalahan ataupun dosa.
Mana mungkin ada gembala bisa menggembalakan domba-domba
mereka seperti terulis dalam Alkitab di tanggal 25 Desember jadi gak mungkin
Natal itu jatuh di tanggal 25 Desember di musim dingin, pastilah kelahiran
Yesus ada di bulan-bulan yang lebih hangat.
Kenapa tidak mungkin?? Betlehem – Palestina bukanlah seperti
di Inggris, Rusia ataupun di Alaska,
berada di lintang 31,7 sedikit lebih dekat ke khatulistiwa dibanding dengan
Dalas Texas, bhakan di dalas pada
tanggal 25 Desember orang masih nyaman keluar malam hari, apalagi di Betlehem,
sedangkan di Italia yang lebih tinggi lagi mereka masih bisa mengembalakan
domba di akhir bulan desember.
Natal baru dirayakan oleh umat Kristen itu pada abad ke 4 Masehi
dimana ditetapkan oleh Konstantine setelah dia masuk Kristen pada abad ke 4 M
atau pada tahun 325 dalam Konsili Konstantine menetapkan tanggal 25 Desember
sebagai hari Natal.
Jadi singkat kata dari abad 1 M sampai 4 M Natal tidak
pernah dirayakan oleh umat Kristen.
Benarkah??
Dari catatan Telesphorus
(yang menjadi Paus di tahun 126-137) telah menentukan Tradisi Misa
Tengah Malam Natal dan juga catatan perkataan seorang uskup di Kaisarea
Palestina bernama Teofillus (115-181) mengatakan “Kita harus merayakan
kelahiran Tuhan kita pada hari dimana tanggal 25 Desember harus terjadi”.
Catatan lain di abad 2, St Hippolytus (170-240) menulis “Kedatangan
Tuhan kita di dalam daging terjadi
ketika Ia dilahirkan tanggal 25 Desember, pada hari Rabu... dst..”
Sekitar tahun 400, St. Agustinus juga mencatat kaum Skisma
Donatist berasal tahun 311 telah merayakan Natal pada 25 Desember, hal ini
mengindikasikan Gereja Latin telah melaksanakan Natal 25 Desember sebelum tahun
311.
Jadi apapun alasannya tradisi Perayaan Liturgis Natal
tanggal 25 Desember telah di laksanakan
jauh sebelum Kristianitas dilegalkan di Roma bahkan jauh sebelum catatan
pertama perayaan pagan atas kelahiran Dewa Matahari.
Mereka mengatakan bahwa 25 Desember ditetapkan sebagai Hari
Natal Kristus adalah untuk menggantikan festifal pagan Romawi yang disebut
Saturnalia atau festival musim dingin yang merupakan peringatan Winter Soltice
atau titik terjauh matahari dari garis
Khatulistiwa, namun demikian titik Winter Soltice ini sendiri jatuh pada
tanggal 22 dimana perayaannya di laksanakan dari tanngal 17 sampai 23 Desember
jadi tidak ada hubungannya dengan tanggal 25 Desember, ibarat hari Ibu tanggal
22 Desember dengan Natal tanggal 25 Desember walaupun berdekatan tapi gak ada
hubungannya.
Mereka mengatakan bahwa 25 Desember dipilih untuk menggantikan
hari libur Romawi Natalis Solis
Invicti” yang artinya kelahiran Dewa Matahari.
Pada kenyataanya pengkultusan Solis Invicti atau Matahari yang Tak
Terkalahkan ini baru di kultuskan pada akhir abad ke 3 atau di tahun 274 oleh
Kaisar Aurelian. Nama Aurelian sendiri berasal dari kata Aurora yang artinya “Matahari
Terbit” dan bukti-bukti uang koin pada jaman Aurelian ini menunjukkan bahwa
Aurellian menganggap dirinya sebagai Imam Agung Matahari dan kemudian
mengindentifikasikan namanya dengan Dewa Matahari.
Akan tetapi yang terpenting adalah tidak pernah ada bukti
sejarah tentang adanya perayaan Natalis Sol Invictus pada tanggal 25 Desember,
bahkan dalam sebuah manuskrip penting yang berasal sebelum tahun 354 dimana ada
tertulis 25 Desember tertulis “N Invicti CM XXX” dimana N atau Nativity artinya
kelahiran, Invicti atau tak terkalahkan, CM atau Circenses Missus yang artinya
Permainan Yang Diperintahkan dan XXX atau angka 30 yang arti keseluruhannya 30
Permainan Yang Ditetapkan Untuk Kelahiran Yang Tidak Terkalahkan pada tanggal
25 Desember dan sama sekali tidak ada dikatakan mengenai Matahari bahkan dalam
kalimat selanjutnya dikatakan dalam naskah kuno tersebut “Natus Christus in
Betleem Iudeae” atau Kelahiran Kristus di Betlehem Yudea di tanggal 25 Desember
tersebut, bahkan pada kenyataannya tidak ada tercatat didalam kalender Romawi adanya
perayaan apapun pada tanggal 25 Desember, sampai Roma menjadi Kristen, artinya
sebelum Roma menjadi Kristen tanggal 25 Desember itu bukan tanggal merah karena
bukan merupakan hari perayaan apapun.
Mereka yang mengkait-kaitkan Natal Kristus tanggal 25
Desember ini sesungguhnya tidak lebih dari sebua hipotesa belaka yang secara
serius layak dipertanyakan, karena bukti
prasasti dijaman Kaisar Licinius, menuliskan bahwa perayaan Dewa Matahari jatuh pada tanggal 19
Desember, dan persembahan kepada Dewa Matahari
dilakukan tanggal 18 November
(Wallraff 2001:174-177).
Secara Kronologis Timelinenya dapat dikatakan sebagai
berikut:
Awal Abad 2 (Tahun 115) sudah ada catatan sejarah Perayaan
Natal Oleh Umat Kristen
Abad 3 (Tahun 274) Dewa Matahari mulai dikultuskan oleh Aurelian
Abad 4 Roma mulai memasukkan 25 Desember sebagai tanggal merah dalam kalender mereka sebagai
hari Natal Kristus, yang sebelumnya tanggal 25 Desember bukanlah tanggal merah
dalam kalender mereka.
Jadi jelaslah bahwa perayaan Natal untuk memperingati hari
lahirnya Yesus sudah di lakukan jauh sebelum dikultuskannya Dewa Matahari dan
juga merupakan tanggal yang berbeda dengan perayaan festival pagan maupun
lahirnya Dewa Matahari.
Lalu kemudian apakah alasannya tradisi gereja dan bapa-bapa
gereja menetapkan tanggal 25 Desember
sebagai hari kelahiran Yesus?
Yang pertama tentunya dari kesaksian Ibu Yesus sendiri,
walaupun tidak tertulis dalam Alkitab pastilah Maria sering ditanyakan mengenai
tanggal kelahiran Yesus.
Kedua pada saat Maria mulai mengandung, ia bertemu dengan
Elizabeth yang saat itu tengah mengandung Yohanes Pembabtis pada bulan yang ke
6 (Luk 1:24-27,36) artinya Yesus akan lahir setelah 6 bulan lahirnya Yohanes
Pembabtis, lalu pertanyaannya kapankah Yohanes pembabtis lahir?
Elizabet mulai mengandung Yohanes Pembabtis beberapa hari
setelah Zakaria menerima pesan dari Malaikat Gabriel pada saat ia bertugas dan
memasuki ruang Maha Suci dan ini mengasosiasikan Zakaria dengan “the Day
of Atonement” yang jatuh pada tanggal 10
bulan Tishri (kira-kira akhir September) dan tidak lama setelah itu Elizabeth
mengandung, dengan perhitungan 40 minggu setelahnya jatuh di akhir Juni, dimana
dalam Perayaan Katolik mengenai kelahiran Yohanes Pembabtis pada tanggal 24
Juni, dan karena beda usia Yohanes Pembabtis dan Yesus adalah 6 bulan, maka 6
bulan dari 24 juni jatuh pada tanggal 24/25 Desember, dan jika 25 Desember dikurangi 9 bulan maka
akan didapat tanggal 25 Maret yang merupakan hari peringatan Kabar Suka Cita (Annunciation
– Hari dimana Maria menerima Kabar Suka Cita Tuhan bahwa ia akan mengandung)
Semoga penjelasan ini cukup bermanfaat buat rekan seiman dan
semoga bisa lebih lagi merayakan Natal tanpa pertanyaan dan ganjalan.
Selamat Natal....