Sunday, December 28, 2014

Tuhan Sempurna, Manusia Tidak Sempurna

Segala kesempurnaan selalu datangnya dari Tuhan, Tuhan selalu benar, Dia tidak pernah salah, kalau ada ketidak sempurnaan dan kesalahan itu datangnya dari manusia.

Kita pasti sering ya dengar ungkapan seperti ini, sering diucapkan saat ingin memulai diskusi, rapat ataupun kegiatan lain, atau hanya sekedar sebuah ungkapan status di Facebook, Tweter, BBM atau di Medsos lainnya.

Ungkapan seperti ini secara umum walaupun tidak semua orang, mereka mengamininya sebagai sebuah kebenaran.

Saya juga sama sekali tidak ingin mengkritisi ungkapan ini, bahkan pada intinya saya setuju dengan ungkapan ini yang  mempunyai 2 point inti.
1. Tuhan Sempurna dan tidak mungkin salah.
2. Manusia tidak sempurna dan sangat mungkin salah.

Tuhan itu Sempurna karena itu hukum-hukumnya pastilah sempurna. Hukum Tuhan pastilah adil dan baik demi memuliakan umatNya. Demikianlah kira-kira keyakinan dan iman setiap insan yang mengaku percaya kepada Tuhan.

Sekali lagi saya tidak menyalahkan iman seseorang seperti ini, bahkan sayapun beriman seperti ini.

Tapi pada kenyataannya di dunia ini tidak cuma ada satu iman tidak cuma ada satu agama, banyak iman, agama dan keyakinan yang berbeda-beda, yang masing-masing memiliki dan menyembah Tuhannya sendiri-sendiri dan sudah menjadi kepastian bahwa masing-masing mengklaim dan menganggap imannya lah yang paling benar.

Sekali lagi saya setuju, bahkan sayapun beriman seperti itu.

Hanya saja iman eksklusive ditengah-tengah keberagaman iman dan kepercayaan seringkali menimbulkan konflik. Ketika seseorang, sekelompok ataupun dalam jumlah yang lebih besar lagi dari itu, mulai memaksakan kebenaran agamanya, kebenaran hukum-hukum TuhanNya yang mereka yakini adalah Hukum tertinggi di dunia ini, dan karenanya wajib dipatuhi oleh siapa saja yang hidup di dunia ini karena dunia adalah milik Tuhannya mereka. Dan kemudian pada akhirnya mereka mulai menghujat bahkan mengkafirkan siapa saja yang tidak sepaham dan seiman dengan mereka.

Dalam sejarah kemanusiaan kita pernah memasuki masa-masa kegelapan dimana manusia membunuh manusia, ratusan ribu bahkan jutaan nyawa manusia terbuang dan darah tertumpah telah tertumpah hanya karena ingin menegakkan hukum Tuhan bagi seluruh umat manusia, hukum yang diyakini dapat memberikan keadilan dan kedamaian bagi seluruh umat manusia, lalu dipaksakan agar dipatuhi oleh semua orang, yang terjadi justru sebaliknya, bukan keadilan yang tercipta tapi penindasan, bukan kedamaian yang tercipta tapi teror dan pertumpahan darah.

Semua itu hanya karna satu alasan "Tuhan yang sempurna, hukum-hukumnya pastilah sempurna" karena terciptalah sebuah harapan Utopia dengan menegakkan hukum Tuhan bagi seluruh umat di muka bumi.

Ironis...

Selama berabad-abad korban berjatuhan, mimpi menjadikan dunia yang indah ternyata menjadi bencana.

Tuhan sempurna dan hukum-hukumnya pastilah sempurna..
Kenapa kita hanya memikirkan point ini saja, kenapa kita manusia tidak memikirkan juga point yang ke dua, manusia tidak sempurna dan sering salah?

Kalau saja kita bersikap seimbang antara point 1 dan point 2  pastilah dunia ini bisa lebih indah.

Di dalam kesempurnaan Tuhan dan Kesempurnaan Hukum-Hukumnya bukankah kita manusia yang tidak sempurnalah yang menafsirkan hukum-hukum Tuhan itu.

Bukankah kita manusia yang tidak sempurnalah yang memilih Tuhan yang akan kita imani?

Bukankah kita yang tidak sempurnalah yang agama yang akan kita jalani.

Kita hanyalah manusia yang tidak sempurna, pemilihan iman kitapun berdasarkan keterbatasan dan ketidak sempurnaan manusia.

Atas dasar ketidak sempurnaan jugalah kita memilih Tuhan yang akan kita sembah.

Atas dasar ketidak sempurnaan jugalah kita percaya hukum-hukum Tuhan yang kita anggap sempurna.

Kita manusia tidak sempurna, kita bisa salah dan itu sudah menjadi fitrahnya seorang manusia.

Kalau kita tidak sempurna, bukankah kita bisa salah memilih agama yang kita anut, bukankah kita bisa salah memilih Tuhan yang kita sembah dan kita anggap sebagai satu-satunya Tuhan yang sejati dan benar, bukankah kita juga bisa salah menegakkan hukum yang kita anggap benar?

Itulah ketidak sempurnaan manusia.

Pada akhirnya yang kita miliki adalah Iman itu sendiri, Iman yang tidak memaksakan imannya untuk dipercayai semua orang, karena saya bisa saja salah.

Memaksakan Iman kita kepada orang lain yang berbeda sama artinya dengan mengatakan bahwa saya manusia tidak pernah salah, karena pilihan saya tidak salah kamu harus ikuti pilihan saya.

Mengkafirkan orang lain yang tidak seiman, melarang atau orang lain menjalankan ibadah mereka dan memaksakan iman kita kepada orang lain itu sama saja mengatakan saya Tuhan dan saya sempurna karena itu saya tidak pernah salah.


Saturday, December 27, 2014

25 Desember - Yesus atau Dewa Matahari

Hari Natal baru aja berlalu, tapi suasananya tentunya masih tetap berasa terutama buat saudara-saudara seiman yang sampai hari ini masih berkumpul bersama keluarga dan masih menikmati liburan Natalnya.

Semoga semuanya bisa menikmati semua acara-acara dan ibadah-ibadah Natal dengan damai dan tidak ada gangguan dan ganjalan sama sekali, walau dibeberapa tahun belakangan ini setiap kali memasuki bulan Natal mulai rame yang namanya perdebatan mengenai halal haram memberikan selamat Natal kepada kita, tapi tentunya hal seperti itu tidak akan mengurangi sedikitpun ke indahan Natal kita, dan juga tentunya tidak akan merubah tali silahturahmi persahabatan dan persaudaraan antara kita dengan mereka, kita tetap bersahabat dan kita akan tetap bersaudara.

Sebenarnya tulisan ini pengennya sih sebelum Natal ditulis dan di share, karena selain banyaknya perdebatan yang diatas tadi itu banyak juga pertanyaan-pertanyaan  yang mempersoalkan legitimasi kita umat Kristen kenapa merayakan Natal di Tanggal 25 DESEMBER?  

Apa dalilnya?  

Natal yang sesungguhnya tidak mungkin tanggal 25 Desember karena tidak mungkin ada gembala bisa mengembalakan domba-dombanya di tanggal 25 Desember yang lagi dingin-dinginnya, lalu tidak cukup sampai disitu mereka juga mengatakan bahwa umat Kristen baru mulai merayakan kelahiran Kristus itu pada abad-abad ke 3 atau 4 Masehi atau 3 atau 4 abad kemudian setelah Yesus lahir, dimana konon kabarnya perayaannya di adopsi dari perayaan festival kaum pagan(penyembah berhala) dan merupakan hari lahirnya Sang Dewa Matahari.

Cerita ini semakin sering kita dengar dari tahun ke tahun dari Natal ke Natal, bahkan banyak sekali situs-situs di internet yang pengelolanya juga orang Kristen sendiri yang  juga menulis cerita-cerita seperti itu sebagai asal mulanya perayaan Natal dimulai, dan di akhir cerita itu sebagai pembelaannya selalu dikatakan “Tanggal tidaklah penting”, “Bebas-bebas aja kok merayakan kapan aja yang penting semangatnya dan spiritnya”, “Walaupun dulu mungkin di rayakan sebagai perayaan lahirnya Dewa Matahari tapi dengan diambil alih menjadi Natalnya Yesus kita sudah membuat penyembahan berhala berhenti dan digantikan dengan perayaan terhadap kelahiran Kristus” dan sebagainya dan sebagainya.

Dan beberapa tahun belakangan juga cerita ini sering sekali di ceritakan di rumah ibadah teman, sahabat ataupun saudara-saudara kita dalam ibadah Jumat mereka, bahkan di Desember tahun ini sayapun ada 2 kali ikutan nimbrung duduk manis mendengarkan cerita ini di sampaikan dalam ibadah Jumat mereka.

Lalu benarkah Yesus sesungguhnya tidak lahir tanggal 25 Desember?

Benarkah kita meng-akulturisasi perayaan pagan dan memperingati kelahiran Dewa Matahari?

Benarkah??

Saya coba sedikit menjelaskan semua itu, semoga apa yang saya sampaikan, penjelasan saya dalam tulisan ini bisa berguna buat saudara-saudara seiman.

Mereka menanyakan apa dalilnya kita merayakan hari kelahiran Kristus?

Bukankah Yesus tidak pernah memerintahkan ataupun mencontohkan untuk merayakan hari kelahiranNya?

Bukankah tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang menyuruh kita merayakan Natal?

Lalu kenapa kita berani-beraninya merayakan Natal?

Mereka yang mempertanyakan mengenai dalil-dalil Natal sesungguhnya mempertanyakan iman Kristen dari standar iman mereka yang  didasarkan atas hukum-hukum dan dalil-dalil.

Iman Kristen tidak didasarkan atas hukum-hukum dan dalil-dalil, Iman Kristen adalah Iman yang Mandiri yang tidak mendasarkannya kepada hukum dan dalil, tapi hanya berdasarkan kepada hubungan pribadi dengan Tuhan, dan satu-satunya hukum tertinggi dalam iman Kristen adalah Hukum Kasih.

Karena itu walau tidak diperintahkan, walaupun tidak dicontohkan dan walaupun tidak ada tertulis mengenai perayaan Natal di Alkitab, merayakannya sama sekali bukanlah sebuah kesalahan ataupun dosa.

Mana mungkin ada gembala bisa menggembalakan domba-domba mereka seperti terulis dalam Alkitab di tanggal 25 Desember jadi gak mungkin Natal itu jatuh di tanggal 25 Desember di musim dingin, pastilah kelahiran Yesus ada di bulan-bulan yang lebih hangat.

Kenapa tidak mungkin?? Betlehem – Palestina bukanlah seperti di  Inggris, Rusia ataupun di Alaska, berada di lintang 31,7 sedikit lebih dekat ke khatulistiwa dibanding dengan Dalas Texas,  bhakan di dalas pada tanggal 25 Desember orang masih nyaman keluar malam hari, apalagi di Betlehem, sedangkan di Italia yang lebih tinggi lagi mereka masih bisa mengembalakan domba di akhir bulan desember.

Natal baru dirayakan oleh umat Kristen itu pada abad ke 4 Masehi dimana ditetapkan oleh Konstantine setelah dia masuk Kristen pada abad ke 4 M atau pada tahun 325 dalam Konsili Konstantine menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal.

Jadi singkat kata dari abad 1 M sampai 4 M Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen.

Benarkah??

Dari catatan Telesphorus  (yang menjadi Paus di tahun 126-137) telah menentukan Tradisi Misa Tengah Malam Natal dan juga catatan perkataan seorang uskup di Kaisarea Palestina bernama Teofillus (115-181) mengatakan “Kita harus merayakan kelahiran Tuhan kita pada hari dimana tanggal 25 Desember harus terjadi”.

Catatan lain di abad 2, St Hippolytus (170-240) menulis “Kedatangan Tuhan kita di dalam daging  terjadi ketika Ia dilahirkan tanggal 25 Desember, pada hari Rabu... dst..”
Sekitar tahun 400, St. Agustinus juga mencatat kaum Skisma Donatist berasal tahun 311 telah merayakan Natal pada 25 Desember, hal ini mengindikasikan Gereja Latin telah melaksanakan Natal 25 Desember sebelum tahun 311.

Jadi apapun alasannya tradisi Perayaan Liturgis Natal tanggal 25 Desember  telah di laksanakan jauh sebelum Kristianitas dilegalkan di Roma bahkan jauh sebelum catatan pertama perayaan pagan atas kelahiran Dewa Matahari.

Mereka mengatakan bahwa 25 Desember ditetapkan sebagai Hari Natal Kristus adalah untuk menggantikan festifal pagan Romawi yang disebut Saturnalia atau festival musim dingin yang merupakan peringatan Winter Soltice atau titik terjauh  matahari dari garis Khatulistiwa, namun demikian titik Winter Soltice ini sendiri jatuh pada tanggal 22 dimana perayaannya di laksanakan dari tanngal 17 sampai 23 Desember jadi tidak ada hubungannya dengan tanggal 25 Desember, ibarat hari Ibu tanggal 22 Desember dengan Natal tanggal 25 Desember walaupun berdekatan tapi gak ada hubungannya.

Mereka mengatakan bahwa 25 Desember dipilih untuk  menggantikan  hari libur Romawi  Natalis Solis Invicti” yang artinya kelahiran Dewa Matahari.

Pada kenyataanya pengkultusan  Solis Invicti atau Matahari yang Tak Terkalahkan ini baru di kultuskan pada akhir abad ke 3 atau di tahun 274 oleh Kaisar Aurelian. Nama Aurelian sendiri berasal dari kata Aurora yang artinya “Matahari Terbit” dan bukti-bukti uang koin pada jaman Aurelian ini menunjukkan bahwa Aurellian menganggap dirinya sebagai Imam Agung Matahari dan kemudian mengindentifikasikan namanya dengan Dewa Matahari.

Akan tetapi yang terpenting adalah tidak pernah ada bukti sejarah tentang adanya perayaan Natalis Sol Invictus pada tanggal 25 Desember, bahkan dalam sebuah manuskrip penting yang berasal sebelum tahun 354 dimana ada tertulis 25 Desember tertulis “N Invicti CM XXX” dimana N atau Nativity artinya kelahiran, Invicti atau tak terkalahkan, CM atau Circenses Missus yang artinya Permainan Yang Diperintahkan dan XXX atau angka 30 yang arti keseluruhannya 30 Permainan Yang Ditetapkan Untuk Kelahiran Yang Tidak Terkalahkan pada tanggal 25 Desember dan sama sekali tidak ada dikatakan mengenai Matahari bahkan dalam kalimat selanjutnya dikatakan dalam naskah kuno tersebut “Natus Christus in Betleem Iudeae” atau Kelahiran Kristus di Betlehem Yudea di tanggal 25 Desember tersebut, bahkan pada kenyataannya tidak ada tercatat didalam kalender Romawi adanya perayaan apapun pada tanggal 25 Desember, sampai Roma menjadi Kristen, artinya sebelum Roma menjadi Kristen tanggal 25 Desember itu bukan tanggal merah karena bukan merupakan hari perayaan apapun.

Mereka yang mengkait-kaitkan Natal Kristus tanggal 25 Desember ini sesungguhnya tidak lebih dari sebua hipotesa belaka yang secara serius layak dipertanyakan, karena bukti  prasasti dijaman Kaisar Licinius, menuliskan bahwa  perayaan Dewa Matahari jatuh pada tanggal 19 Desember, dan persembahan kepada Dewa Matahari  dilakukan tanggal 18 November  (Wallraff 2001:174-177).

Secara Kronologis Timelinenya dapat dikatakan sebagai berikut:
Awal Abad 2 (Tahun 115) sudah ada catatan sejarah Perayaan Natal Oleh Umat Kristen

Abad 3 (Tahun 274) Dewa Matahari mulai dikultuskan oleh Aurelian

Abad 4 Roma mulai memasukkan 25 Desember sebagai  tanggal merah dalam kalender mereka sebagai hari Natal Kristus, yang sebelumnya tanggal 25 Desember bukanlah tanggal merah dalam kalender mereka.

Jadi jelaslah bahwa perayaan Natal untuk memperingati hari lahirnya Yesus sudah di lakukan jauh sebelum dikultuskannya Dewa Matahari dan juga merupakan tanggal yang berbeda dengan perayaan festival pagan maupun lahirnya Dewa Matahari.

Lalu kemudian apakah alasannya tradisi gereja dan bapa-bapa gereja menetapkan tanggal  25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus?

Yang pertama tentunya dari kesaksian Ibu Yesus sendiri, walaupun tidak tertulis dalam Alkitab pastilah Maria sering ditanyakan mengenai tanggal kelahiran Yesus.

Kedua pada saat Maria mulai mengandung, ia bertemu dengan Elizabeth yang saat itu tengah mengandung Yohanes Pembabtis pada bulan yang ke 6 (Luk 1:24-27,36) artinya Yesus akan lahir setelah 6 bulan lahirnya Yohanes Pembabtis, lalu pertanyaannya kapankah Yohanes pembabtis lahir?

Elizabet mulai mengandung Yohanes Pembabtis beberapa hari setelah Zakaria menerima pesan dari Malaikat Gabriel pada saat ia bertugas dan memasuki ruang Maha Suci dan ini mengasosiasikan Zakaria dengan “the Day of  Atonement” yang jatuh pada tanggal 10 bulan Tishri (kira-kira akhir September) dan tidak lama setelah itu Elizabeth mengandung, dengan perhitungan 40 minggu setelahnya jatuh di akhir Juni, dimana dalam Perayaan Katolik mengenai kelahiran Yohanes Pembabtis pada tanggal 24 Juni, dan karena beda usia Yohanes Pembabtis dan Yesus adalah 6 bulan, maka 6 bulan dari 24 juni jatuh pada tanggal 24/25 Desember,  dan jika 25 Desember dikurangi 9 bulan maka akan didapat tanggal 25 Maret yang merupakan hari peringatan Kabar Suka Cita (Annunciation – Hari dimana Maria menerima Kabar Suka Cita Tuhan bahwa ia akan mengandung)

Semoga penjelasan ini cukup bermanfaat buat rekan seiman dan semoga bisa lebih lagi merayakan Natal tanpa pertanyaan dan ganjalan.
Selamat Natal....

Sunday, December 21, 2014

Benteng Kaca Yang Rapuh

Beberapa waktu lalu jalan" di mall pas memasuki area pecah belah terdapat tulisan "Pecah Berarti Membeli" wah reflek aja jalan jadi lebih hati" sambil melihat barang" pecah belah yang dipajang di kiri kanan.

Segala sesuatu yang rapuh memang membutuhkan perlindungan dan penjagaan yang ekstra, semakin rapuh pasti akan dijaga semakin ekstra bahkan terkadang dengan cara yang galak dan berlebihan.

 Gak tau kenapa malah jadi kepikiran juga soal iman seseorang.

Siapapun orang yang mengaku memiliki iman, pasti mendasarkan iman mereka terhadap ajaran" dogma doktrin dari dalam kitab sucinya. Lalu apa hubungannya ajaran" yang di imani dengan barang pecah belah yang rapuh dan wajib di jaga?
Ya karena iman akan pengajaran yang di imani seseorang tidak jauh beda dengan barang" pajangan tadi Semakin kuat pengajaran yang di imani oleh penganutnya akan membuat para penganutnya semakin percaya diri, serangan" terhadap ajaran yang mereka imani tidak akan membuat mereka bergeming, tidak akan menyinggung harga diri mereka tidak akan mereka takut akan membuat akidah keyakinan iman mereka akan runtuh, dan tidak akan membuat mereka berfikir untuk mengangkat senjata membela akidah iman mereka.
Ibarat orang yang berlindung di dalam sebuah benteng yang sangat kuat, segala bentuk serangan terhadap benteng itu tidak akan membuat mereka kuatir dan cemas sedikitpun.
Sebaliknya... Semakin rapuh ajaran yang di imani oleh penganutnya, maka secara otomatis para penganutnya akan menjaganya dengan cara yang super ekstra dan ketat, seperti orang" yang berlindung di dalam benteng kaca yang rapuh, gerakan sedikitpun dari luar benteng wajib di curigai karena bisa berbahaya bagi benteng yang rapuh, serangan" terhadap benteng harus di cegah secepat mungkin, karena sekecil apapun serangan dapat berakibat fatal bagi benteng kaca yang rapuh itu, karena itu orang" yang berada dalam benteng kaca ini mereka harus keluar berbaris merapat menjadi pagar pelindung bagi benteng kaca itu.

Selamanya dalam hidup akan selalu ada orang yang tidak sepaham dan berbeda dengan kita, begitu juga dalam hal iman dan percaya akan selalu ada orang yang tidak seiman bahkan orang" yang mempertanyakan bahkan menyerang iman percaya kita.
Reaksi kita itulah yang meng-indikasikan apakah kita berlindung dalam benteng iman pengajaran yang kuat atau malah kita menjadi pelindung bagi benteng kaca yang rapuh.
Kalau ada orang mengkritik pengajaran iman kita lalu kita menjawab dengan baik dan tidak menjadi benci kepada mereka yang mengkritik baik apakah itu kritikan kecil atau kritikan super pedas yang terkadang lebih cenderung berbau dan bernada hujatan, maka kita berada dalam benteng pengajaran yang kuat.
Pengajaran yang memiliki dasar yang kuat tidak akan pernah memerintahkan umatnya untuk turun tangan membelanya. Kalaupun ada yang harus dijawab sebagai jawaban atas serangan dan kritikan iman pastilah hanya sebatas dialog.
Ini adalah ciri dari orang yang beriman atas pengajaran yang memiliki dasar yang kuat. Sebaliknya orang" dari benteng kaca yang rapuh, mereka akan di ajarkan untuk sekuat tenaga melindungi benteng kaca pengajaran mereka yang rapuh, mereka diajarkan untuk membungkam semua kritik dengan cara apapun, bahkan kalau perlu tidak boleh ada kritik atau serangan dalam bentuk apapun atas dasar iman mereka. Saat ada perbedaan pendapat, mereka akan menganggap orang yang berbeda pendapat itu sebagai musuh, para pembenci yang harus segera di bungkam.

Semakin pintar dan bijaksana seseorang dia akan menjadi orang yang lebih punya pengertian dan tidak gampang tersinggung ataupun marah. Tapi seseorang yang makin bodoh mereka akan makin mudah tersinggung dan gampang marah. Sekuat dan seyakin apa kita percaya ajaran yang kita imani sebagai sesuatu yang benar, semua terlihat dari reaksi kita menghadapi orang yang tidak sepaham atau seiman dengan kita.

Selamat mempersiapkan Natal teman dan saudara"ku..

Di Doa Ibu Ku Dengar..

Di Waktu Ku Masih Kecil Gembira Dan Senang Tiada Duka Ku Kenal Tak Kunjung Mengerang Di Sore Hari Nan Sepi Ibuku Bertelut Sujud Berdoa Ku Dengar Namaku Disebut Di Doa Ibuku Namaku Disebut Di Doa Ibu Ku Dengar Ada Namaku Disebut Seringlah Kini Ku Kenang Di Masa Yang Berat Di Kala Hidup Mendesak Dan Nyaris Ku Sesat Melintas Gambar Ibuku Sewaktu Bertelut Kembali Sayup Ku Dengar Namaku Disebut Sekarang Dia Telah Pergi Ke Rumah Yang Senang Namun Kasihnya Padaku Selalu Ku Kenang Kelak Di Sana Kami Pun Bersama Bertelut Memuji Tuhan Yang Dengan Namaku Disebut Selamat Hari Ibu...